KAIDAH PANTUN
Judul : Kaidah Pantun
Pertemuan ke : 13
Hari/tanggal : Senin, 6 Pebruari
2023
Narasumber : Miftahul Hadi , S.Pd
Moderator : Dail Ma’ruf, M.Pd
Senin malam adalah pertemuan KBMN yang ketiga belas, dimana pertemuan ini
bertepatan dengan kegiatan saya untuk mengikuti kegiatan 1 Abad NU yang
diselenggarakan di Sidoarjo Jawa Timur. Jadwal kami untuk mengikuti kegiatan tersebut adalah antara
jam 04.00 sampai jam 07.00. dikarenakan rumah kami di pelosok pantai selatan
yaitu Pantai Prigi Trenggalek, maka kami berangkat menghadiri acra tersebut jam
09.00 agar tidak terlambat dan berharap nantinya bisa masuk ke Hall nya. Dengan
demikian kegiatan kami pada pertemuan kali ini, kami ikuti sambil naik Elf
bersama teman-teman guru se Madrasah kami.
Pada pertemuan kali ini bapak narasumber yaitu Miftahul Hadi, S.Pd
menyampaikan tentang kaidah pantun. Sebuah pantun menggunakan
bahasa sebagai media untuk mengungkapkan makna yang ingin disampaikan. Struktur
kebahasaan pada sebuah pantun sering juga disebut dengan struktur fisik.
Struktur fisik tersebut mencakup diksi, bahasa kiasan, imaji, dan bunyi yang terdiri
atas rima dan ritme. Jika ingin berpantun, harus memiliki kemampuan berbahasa
yang memadai. Dengan berpantun, dilatih untuk berpikir secara spontan, yakni
berpikir secara cepat serta memiliki kemampuan untuk menangkap dan menanggapi
sesuatu secara cepat pula.
Pantun berperan sebagai
alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan menjaga
alur berpikir. Pantun melatih seseorang akan makna kata sebelum berujar. Pantun
juga orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata memiliki kaitan dengan kata
yang lain. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan sosial yang kuat,
bahkan sampai dengan sekarang. Dikalangan generasi muda kemampuan berpantun
sangat dihargai. Pantun menunjukkan kemampuan orang berpikir dan bermain
kata-kata. Secaara umum pantun peran sosial pantun berfungsi sebagai penyampai
pesan.
1.Diksi
Agar tujuan sebuah pantun dapat disampaikan dengan sempurna, seseorang yang
melantunkan pantun harus jeli menempatkan kata-kata tertentu. Penempatan diksi
yang tepat menjadi sangat penting. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia),
diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya
untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang
diharapkan.
Pantun yang digunakan
untuk berkomunikasi biasanya menggambarkan masyarakat pada zamannya (zaman
pantun tersebut diciptakan), yang tentu saja terlihat pada diksi yang
digunakan. Misalnya pantun yang lahir pada zaman tradisional, kerap menggunakan
diksi yang berkaitan dengan alam dan kehidupan masyarakat saat itu.
Jika diperhatikan pantun
yang lahir pada masa dahulu, maka akan dinemukan beberapa kata arkais yang
sudah jarang ditemukan saat ini. Berikut ini beberapa kata arkais yang sering
muncul dalam pantun tradisonal.
|
No. |
Kata Arksis |
Makna Kata |
||
|
1. |
Tingkap |
Jendela di atap, di
dinding , dan sebagainya. |
||
|
2. |
Jikalau |
Kalau ; Jika |
||
|
3. |
Langau |
Lalat besar yang suka
mengisap darah hewan ; pikat . |
||
|
4. |
Lesap |
Hilang ; Lenyap ;
Lucut. |
||
|
5. |
Lubuk |
Bagian yang dalam di
perairan (sungai, laut, danau, dan sebagainya) |
||
|
6. |
Gaharu |
Kayu yang harum baunya,
biasanya dari pohon tengkuras. |
||
|
7. |
Tenun |
Hasil kerajinan yang
berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutera, dan sebagainya)
dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melingtan pada lungsin |
||
|
8. |
Amanat |
Keseluruhan makna atau
isi pembicaraan ; konsep atau perasaan yang ingin disampaikan oleh pembicara
untuk dimengerti dan diterima pendegar atau atau pembaca. |
||
|
9. |
Selendang |
Kain (sutra, dan
sebagainya) panjang penutup leher (bahu, atau kepala) atau untuk menari |
||
|
10. |
Pedada |
Pohon yang tumbuh di
hutan-hutan bakau, tingginya mencapai 15 meter. Berakar napas yang keluar
dari lumpur, bentuk daunnya bulat telur, ujungnya tumpul dan membundar,
panjangnya 5—13 cm; beremban;. |
||
|
|
Diksi Mutakhir |
Makna Kata |
||
|
1. |
Facebook |
Facebook adalah sarana
sosial yang menghubungkan orang-orang dengan teman dan rekan mereka lainnya
yang bekerja, belajar, dan hidup di sekitar mereka. |
||
|
2. |
Handphone |
Handphone (HP) adalah
perangkat telekomunikasi elektronik yang dapat dibawa ke mana-mana
(portabel/mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon
menggunakan kabel (nirkabel; wireless). |
||
|
3. |
Status |
Kabar berita |
||
2. Bahasa kiasan
Dalam pantun sering
ditemukan bahasa kiasan, yaitu bahasa yang digunakan pelantun untuk
menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yang secara
tidak langsung mengungkapkan makna. Bahasa kiasan di sini bisa berupa
peribahasa atau ungkapan tertentu dalam menyampaikan maksud berpantun.
Ungkapan atau bentuk idiom adalah gabungan kata yang menimbulkan makna baru,
yakni makna khusus, sehingga tidak dapat diartikan secara sebenarnya. Misalnya
isapan jempol dimaknai sebagai ‘tidak bermakna’, bertekuk lutut ‘menyerah’,
buah tangan ‘oleh-oleh’, dan sebagainya. Carilah makna ungkapan yang ada pada
kolom berikut dan buatlah contoh dalam kalimat.
|
No. |
Ungkapan |
Makna |
Makna Kata |
|
1. |
Besar kepala |
Sombong |
Pak Ardi menjadi besar
kepala setelah menduduki jabatan baru. |
|
2. |
Kaki tangan |
Anak buah |
Mereka berdua telah
benar-benar menjadi kaki tangan bagi Danurejo dan juga kafir Belanda. |
|
3. |
Tebal muka |
Tidak tahu malu |
Memang tebal muka anak
itu, masa ia berani mencuri di depan orang tuanya. |
|
4. |
Kepala batu |
Tidak mau nasihat dari
orang lain |
Udin anak yang
berkepala batu, sudah dinasehati agar rajin belajar tetapi selalu saja dia
bermain-main dengan teman-temannya |
|
5. |
Mata-mata |
Pengintip |
Dalam Serat Centini
diceritakan, mata-mata Susuhunan Amangkurat akhirnya mengetahui tempat
persembunyian keturunan Sunan Giri, musuh bebuyutan dinasti Mataram. |
|
7. |
Darah biru |
Keturunan bangsawan |
Dalam banyak budaya
terutama Jawa, pewaris darah biru ini biasanya akan berusaha mendapatkan
pasangan yang juga berasal dari kalangan darah biru. |
|
8. |
Banting tulang |
Bekerja keras |
Ayah membanting tulang
demi mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. |
|
9. |
Ringan tangan |
Suka membantu |
Wawan memang anak yang
ringan tangan, setiap orang yang kesulitan pasti dibantunya. |
|
10. |
Tangan besi |
Memerintah dengan
semena-mena |
Raja itu memang pantas
mendapatkan ganjarannya karena selama ini memerintah rakyatnya dengan tangan
besi. |
3. Imaji
Imaji atau citraan yang
dihasilkan dari diksi dan bahasa kiasan dalam pembuatan teks pantun. Jika kita
melakukan pengimajian, akan menghasilkan gambaran yang diciptakan secara tidak
langsung oleh pelantun pantun. Oleh sebab itu, apa yang digambarkan seolah-olah
dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji
taktil).
Perhatikan sebait pantun berikut ini.
Jikalau gelap orang bertenun,
bukalah tingkap lebar-lebar.
Jikalau lenyap tukang pantun,
sunyi senyap bandar yang besar.
Imaji yang dilukiskan pada pantun tersebut adalah imaji visual (melihat) dan
imaji taktil (merasakan). Imaji visual dapat dilihat pada baris pertama /Jikalau gelap
orang bertenun//bukalah tingkap lebar-lebar/, seolah-olah pendengar melihat ada
orang yang sedang bertenun dalam kegelapan, lalu meminta pendengar membuka
jendela lebar-lebar. Sementara itu, imaji taktil tergambar pada bagian isi
/Jikalau lenyap tukang pantun//sunyi senyap bandar yang besar/. Hal ini membuat
pendengar seolah-olah merasakan sunyinya kota pelabuhan yang besar karena sudah
tidak ada lagi orang yang berpantun.
4. Bunyi
Struktur pembangun teks
pantun yang terakhir adalah bunyi yang biasanya muncul dari diksi, kiasan,
serta imaji yang diciptakan saat menuturkan pantun. Dalam bunyi, kalian akan
melihat unsur rima (rhyme) dan ritme (rhytm). Rima merupakan unsur pengulangan
bunyi pada pantun, sedangkan irama adalah turun naiknya suara secara teratur. Selain
untuk memperindah bunyi pantun, bebunyian diciptakan juga agar penutur
(pelantun) dan pendengar lebih mudah mengingat serta mengaplikasikan pesan
moral dan spiritual yang terdapat dalam teks pantun jenis apapun.
Dalam menghasilkan sebuah
teks pantun, harus memiliki kemahiran dalam memilih kata yang digunakan, agar
menghasilkan bunyi yang selaras dengan rima akhir a-b-a-b. Tentu saja selain
menghasilkan bunyi yang sepadan, sebuah teks pantun yang dilantunkan memiliki
makna. Berikut akan diberikan beberapa bait pantun, tetapi urutan kata dalam
setiap larik tidak tersusun dengan benar.
|
No. |
Urutan Awal |
Setelah Disusun Kembali |
|
1. |
Pucuk-tikar-mengkuang-tikar Raja-alas-Melayu-nikah Busuk-ikan-dibuang-jangan Perecah-buat-kayu-di-asur |
Tikar pucuk tikar
mengkuang |
|
2. |
Siang-berkebun-bila-orang Naik-gelap-hari-ke-rumah Bila-pantun-hilang-tukang Lesap-habislah-petuah-amanah |
Bila siang orang
berkebun |
|
3. |
Apa-bertenun-orang-guna Baju-untuk-kain-dan-membuat Orang-apa-untuk-berpantun Ilmu-menimba-untuk-berbagai |
Apa guna orang bertenun |
|
4. |
Kalau-pukat-hendak-berlabuh Berdaun-kayu-carilah-pancang Adat-kurang-kalau-mengetahui Orang-berpantun-carilah-tahu |
Kalau hendak berlabuh
pukat |
|
5. |
Telurnya-hitam-putih-ayam Di-pinggir-kali-mencari-makan Hitam-giginya-orang-putih Manis-sekali-kalau-tertawa |
Ayam hitam telurnya
putih |
Pemilihan dan susuan katanya ditempatkan sedemikian rupa, sehingga kata dalam
pantun tidak dapat
dipertukarkan letaknya atau diganti dengan kata lain yang memiliki makna yang
sama. seandainya kata itu diganti susunannya, akan menimbulkan kekacauan bunyi.
Setelah memahami struktur pantun, kalian dapat menyusun larik-larik yang
sengaja diacak untuk menjadi sebuah bait pantun yang tepat. Tentukanlah mana
yang merupakan sampiran dan mana yang merupakan isi.
|
No. |
Urutan Awal |
Setelah Disusun Kembali |
|
1. |
jika hendak menuntut
ilmu |
Kalau hendak pergi
meramu, |
|
2. |
mencabut tebu tidaklah
mudah |
Mencabut tebu tidaklah
mudah, |
|
3. |
ayam berbunyi di bawah
dapur |
Meriam bunyi awak
tertidur |
|
4. |
bagaimana kidung takkan
kembang |
Bagaimana kidung takkan
kembang |
|
5. |
yang besar si
jalar-jalar |
Yang besar di sebut
gelar |
Sebuah pantun menggunakan
bahasa sebagai media untuk mengungkapkan makna yang ingin disampaikan. Struktur
kebahasaan pada sebuah pantun sering juga disebut dengan struktur fisik.
Struktur fisik tersebut mencakup diksi, bahasa kiasan, imaji, dan bunyi yang terdiri
atas rima dan ritme. Jika ingin berpantun, harus memiliki kemampuan berbahasa
yang memadai. Dengan berpantun, dilatih untuk berpikir secara spontan, yakni
berpikir secara cepat serta memiliki kemampuan untuk menangkap dan menanggapi
sesuatu secara cepat pula.
Pantun berperan sebagai
alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan menjaga
alur berpikir. Pantun melatih seseorang akan makna kata sebelum berujar. Pantun
juga orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata memiliki kaitan dengan kata
yang lain. Secara sosial pantun memiliki fungsi pergaulan sosial yang kuat,
bahkan sampai dengan sekarang. Dikalangan generasi muda kemampuan berpantun
sangat dihargai. Pantun menunjukkan kemampuan orang berpikir dan bermain
kata-kata. Secaara umum pantun peran sosial pantun berfungsi sebagai penyampai
pesan.
1. Diksi
Agar tujuan sebuah pantun dapat disampaikan dengan sempurna, seseorang yang
melantunkan pantun harus jeli menempatkan kata-kata tertentu. Penempatan diksi
yang tepat menjadi sangat penting. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia),
diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya
untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang
diharapkan.
Pantun yang digunakan
untuk berkomunikasi biasanya menggambarkan masyarakat pada zamannya (zaman
pantun tersebut diciptakan), yang tentu saja terlihat pada diksi yang
digunakan. Misalnya pantun yang lahir pada zaman tradisional, kerap menggunakan
diksi yang berkaitan dengan alam dan kehidupan masyarakat saat itu.
Jika diperhatikan pantun
yang lahir pada masa dahulu, maka akan dinemukan beberapa kata arkais yang
sudah jarang ditemukan saat ini. Berikut ini beberapa kata arkais yang sering
muncul dalam pantun tradisonal.
|
No. |
Kata Arksis |
Makna Kata |
|
1. |
Tingkap |
Jendela di atap, di
dinding , dan sebagainya. |
|
2. |
Jikalau |
Kalau ; Jika |
|
3. |
Langau |
Lalat besar yang suka
mengisap darah hewan ; pikat . |
|
4. |
Lesap |
Hilang ; Lenyap ;
Lucut. |
|
5. |
Lubuk |
Bagian yang dalam di
perairan (sungai, laut, danau, dan sebagainya) |
|
6. |
Gaharu |
Kayu yang harum baunya,
biasanya dari pohon tengkuras. |
|
7. |
Tenun |
Hasil kerajinan yang
berupa bahan (kain) yang dibuat dari benang (kapas, sutera, dan sebagainya)
dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melingtan pada lungsin |
|
8. |
Amanat |
Keseluruhan makna atau
isi pembicaraan ; konsep atau perasaan yang ingin disampaikan oleh pembicara
untuk dimengerti dan diterima pendegar atau atau pembaca. |
|
9. |
Selendang |
Kain (sutra, dan
sebagainya) panjang penutup leher (bahu, atau kepala) atau untuk menari |
|
10. |
Pedada |
Pohon yang tumbuh di
hutan-hutan bakau, tingginya mencapai 15 meter. Berakar napas yang keluar
dari lumpur, bentuk daunnya bulat telur, ujungnya tumpul dan membundar,
panjangnya 5—13 cm; beremban;. |
Akan tetapi, diksi yang digunakan berbeda dengan pantun yang lahir pada zaman
modern. Kata yang digunakan seringkali dihubungkan dengan kondisi masyarakat
modern dengan berbagai sarana dan prasarana mutakhir.
|
No. |
Diksi Mutakhir |
Makna Kata |
|
1. |
Facebook |
Facebook adalah sarana
sosial yang menghubungkan orang-orang dengan teman dan rekan mereka lainnya
yang bekerja, belajar, dan hidup di sekitar mereka. |
|
2. |
Handphone |
Handphone (HP) adalah
perangkat telekomunikasi elektronik yang dapat dibawa ke mana-mana
(portabel/mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon
menggunakan kabel (nirkabel; wireless). |
|
3. |
Status |
Kabar berita |
2. Bahasa kiasan
Dalam pantun sering
ditemukan bahasa kiasan, yaitu bahasa yang digunakan pelantun untuk
menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yang secara
tidak langsung mengungkapkan makna. Bahasa kiasan di sini bisa berupa
peribahasa atau ungkapan tertentu dalam menyampaikan maksud berpantun.
Ungkapan atau bentuk idiom adalah gabungan kata yang menimbulkan makna baru,
yakni makna khusus, sehingga tidak dapat diartikan secara sebenarnya. Misalnya
isapan jempol dimaknai sebagai ‘tidak bermakna’, bertekuk lutut ‘menyerah’,
buah tangan ‘oleh-oleh’, dan sebagainya. Carilah makna ungkapan yang ada pada
kolom berikut dan buatlah contoh dalam kalimat.
|
No. |
Ungkapan |
Makna |
Makna Kata |
|
1. |
Besar kepala |
Sombong |
Pak Ardi menjadi besar
kepala setelah menduduki jabatan baru. |
|
2. |
Kaki tangan |
Anak buah |
Mereka berdua telah
benar-benar menjadi kaki tangan bagi Danurejo dan juga kafir Belanda. |
|
3. |
Tebal muka |
Tidak tahu malu |
Memang tebal muka anak
itu, masa ia berani mencuri di depan orang tuanya. |
|
4. |
Kepala batu |
Tidak mau nasihat dari
orang lain |
Udin anak yang
berkepala batu, sudah dinasehati agar rajin belajar tetapi selalu saja dia
bermain-main dengan teman-temannya |
|
5. |
Mata-mata |
Pengintip |
Dalam Serat Centini
diceritakan, mata-mata Susuhunan Amangkurat akhirnya mengetahui tempat
persembunyian keturunan Sunan Giri, musuh bebuyutan dinasti Mataram. |
|
7. |
Darah biru |
Keturunan bangsawan |
Dalam banyak budaya
terutama Jawa, pewaris darah biru ini biasanya akan berusaha mendapatkan
pasangan yang juga berasal dari kalangan darah biru. |
|
8. |
Banting tulang |
Bekerja keras |
Ayah membanting tulang
demi mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. |
|
9. |
Ringan tangan |
Suka membantu |
Wawan memang anak yang
ringan tangan, setiap orang yang kesulitan pasti dibantunya. |
|
10. |
Tangan besi |
Memerintah dengan
semena-mena |
Raja itu memang pantas
mendapatkan ganjarannya karena selama ini memerintah rakyatnya dengan tangan
besi. |
3. Imaji
Imaji atau citraan yang
dihasilkan dari diksi dan bahasa kiasan dalam pembuatan teks pantun. Jika kita
melakukan pengimajian, akan menghasilkan gambaran yang diciptakan secara tidak
langsung oleh pelantun pantun. Oleh sebab itu, apa yang digambarkan seolah-olah
dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji
taktil)
Imaji yang dilukiskan pada pantun tersebut adalah imaji visual (melihat) dan
imaji taktil (merasakan). Imaji visual dapat dilihat pada baris pertama
/Jikalau gelap orang bertenun//bukalah tingkap lebar-lebar/, seolah-olah
pendengar melihat ada orang yang sedang bertenun dalam kegelapan, lalu meminta
pendengar membuka jendela lebar-lebar. Sementara itu, imaji taktil tergambar
pada bagian isi /Jikalau lenyap tukang pantun//sunyi senyap bandar yang besar/.
Hal ini membuat pendengar seolah-olah merasakan sunyinya kota pelabuhan yang
besar karena sudah tidak ada lagi orang yang berpantun.
4. Bunyi
Struktur pembangun teks
pantun yang terakhir adalah bunyi yang biasanya muncul dari diksi, kiasan,
serta imaji yang diciptakan saat menuturkan pantun. Dalam bunyi, kalian akan
melihat unsur rima (rhyme) dan ritme (rhytm). Rima merupakan unsur pengulangan
bunyi pada pantun, sedangkan irama adalah turun naiknya suara secara teratur. Selain
untuk memperindah bunyi pantun, bebunyian diciptakan juga agar penutur
(pelantun) dan pendengar lebih mudah mengingat serta mengaplikasikan pesan
moral dan spiritual yang terdapat dalam teks pantun jenis apapun.
Dalam menghasilkan sebuah
teks pantun, harus memiliki kemahiran dalam memilih kata yang digunakan, agar
menghasilkan bunyi yang selaras dengan rima akhir a-b-a-b. Tentu saja selain
menghasilkan bunyi yang sepadan, sebuah teks pantun yang dilantunkan memiliki
makna. Berikut akan diberikan beberapa bait pantun, tetapi urutan kata dalam
setiap larik tidak tersusun dengan benar.
|
No. |
Urutan Awal |
Setelah Disusun Kembali |
|
1. |
Pucuk-tikar-mengkuang-tikar Raja-alas-Melayu-nikah Busuk-ikan-dibuang-jangan Perecah-buat-kayu-di-asur |
Tikar pucuk tikar
mengkuang |
|
2. |
Siang-berkebun-bila-orang Naik-gelap-hari-ke-rumah Bila-pantun-hilang-tukang Lesap-habislah-petuah-amanah |
Bila siang orang
berkebun |
|
3. |
Apa-bertenun-orang-guna Baju-untuk-kain-dan-membuat Orang-apa-untuk-berpantun Ilmu-menimba-untuk-berbagai |
Apa guna orang bertenun |
|
4. |
Kalau-pukat-hendak-berlabuh Berdaun-kayu-carilah-pancang Adat-kurang-kalau-mengetahui Orang-berpantun-carilah-tahu |
Kalau hendak berlabuh
pukat |
|
5. |
Telurnya-hitam-putih-ayam Di-pinggir-kali-mencari-makan Hitam-giginya-orang-putih Manis-sekali-kalau-tertawa |
Ayam hitam telurnya
putih |
Pemilihan dan susuan katanya ditempatkan sedemikian rupa, sehingga kata dalam
pantun tidak dapat
dipertukarkan letaknya atau diganti dengan kata lain yang memiliki makna yang
sama. seandainya kata itu diganti susunannya, akan menimbulkan kekacauan bunyi.
Setelah memahami struktur pantun, kalian dapat menyusun larik-larik yang
sengaja diacak untuk menjadi sebuah bait pantun yang tepat. Tentukanlah mana
yang merupakan sampiran dan mana yang merupakan isi.
|
No. |
Urutan Awal |
Setelah Disusun Kembali |
|
1. |
jika hendak menuntut
ilmu |
Kalau hendak pergi
meramu, |
|
2. |
mencabut tebu tidaklah
mudah |
Mencabut tebu tidaklah
mudah, |
|
3. |
ayam berbunyi di bawah
dapur |
Meriam bunyi awak
tertidur |
|
4. |
bagaimana kidung takkan
kembang |
Bagaimana kidung takkan
kembang |
|
5. |
yang besar si
jalar-jalar |
Yang besar di sebut
gelar |
Burung dara burung cendrawasih
Cari dulu di Papua
Cukup sekian terima kasih
Semoga bermanfaat untuk semua


Komentar
Posting Komentar