MENULIS
ITU MUDAH
Judul : Menulis Itu Mudah
Pertemuan Ke : 9 (Sembilan)
Hari : Jum’at, 27 Januari 2023
Narasumber : Prof. Dr. Ngainun Naim
Moderator : lely Suryani, S.Pd. SD
Suasana malam ke
sembilan kegiatan KBMN di iringi cuaca yang dingin karena hujan gerimis turun. Saya
yang berada jauh dari sumber kegiatan yaitu di kota Trenggalek tepatnya ujung
selatan pantai Prigi tetap semangat mengikuti kegiatan KBMN ini. Semoga niat
selalu istiqomah selalu melekat pada diri kami sebagai pemula yang ingin maju.
Pada pertemuan ke
sembilan ini, narasumber yang memberikan materi adalah seorang yang hebat dalam
menulis dan hebat dalam berbagai prestasi yaitu Prof. Dr. Ngainun Naim yang
ternyata beliau berasal dari daerah yang sama dengan saya Trenggalek Jawa
Timur. Beliau menyampaikan bahwa salah satu kunci menulis yang menulis mudah
yaitu menulis hal-hal sederhana yang kita alami. Jadi pengalaman hidup
sehari-hari itu sumber tulisan yang subur. Kata beliau kita akan mudah
menuliskannya karena kita menceritakan apa yang kita alami. Tergantung kita memilih
aspek apa yang mau kita ceritakan. Jadi apa yang kita alami sehari-hari lebih
baik ditulis saja, tidak takut salah atau jelek, tetapi takutlah jika tidak menulis
Menurut narasumber
Bapak Ngainun, apabila satu kunci dijalankan, maka menulis akan mudah. Yang kedua
jangan menulis sambil dibaca lalu
diedit. Disamping itu yang menjadi
hambatan dalam menulis adalah psikologis
dalam menuangkan pikiran. Seharusnya apa yang ada dalam pikiran kita, maka dikeluarkan
saja sehingga apa yang ada dalam pikiran bisa tertulis secara bebas.
Tahap selanjutnya,
setelah selesai menulis atau karena
sudah habis yang mau ditulis, sebaiknya tulisan kita tinggalkan dulu dan di
simpan di komputer. Ketika suasana pikiran kita senang maka segala isi pikiran yang akan tertuangdalam suatu tulisan juga
akan lebih bisa berkembang. Untuk itu sebaiknya ketika kita jenuh dan berhenti
menulis karena pikiran tidak berkembang, langkah selanjutnya sebaiknya kita mencari suasana psikologis yang berbeda. Istilahnya
ENDAPKAN DULU. Sehingga dengan
demikian selanjutnya kita mempunyai pikiran baru yang bisa berkembang. Selanjutnya,
cermati kalimat demi kalimat dan tambahkan ide yang ada jika memang perlu
ditambah.
Dalam blog Prof. Dr. Ngainun,
https://www.kompasiana.com/ngainun
naim.berbagi/63d1f30408a8b51db6795d52/menjadikan-literasi-sebagai-tradisi. Beliau
mengungkapkan bahwa tradisi literasi sesungguhnya merupakan perpaduan antara
pengetahuan, kesadaran, dan program kegiatan. Ramainya perbincangan tentang
literasi tidak akan mengubah keadaan jika tidak memadukan ketiganya. Literasi
akan riuh di ruang diskusi tetapi minim karya tulis sebagai bukti. Tentu,
teladan dan pengawasan untuk memastikan bahwa tradisi itu bisa terus berjalan
menjadi bagian penting yang tidak bisa diabaikan. Selain itu, Wahyudin Halim
(2021) menjelaskan bahwa menulis itu membutuhkan tiga hal, yaitu mendisiplinkan
jiwa, melenturkan pikiran, dan mengelola raga. Ketiganya merupakan satu
kesatuan yang saling menopang sehingga sebuah tulisan bisa lahir. Mendisiplinkan
jiwa bermakna, tulisan itu lahir ketika jiwa seorang penulis terkonstruk pada
bagaimana mengeluarkan ide dan gagasan dalam bentuk tulisan.
Sebelum mengunggah ke
blog atau Kompasiana, beliua selalu membaca ulang tulisannya. Prinsip dari
bapak Prof.Ngainun sangat sederhana
yaitu meminimalkan hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Yang terpenting
dalam membuat tulisan menjadi mudah, yaitu MENULIS
SECARA NGEMIL., “sedikit demi sedikit”.
Semua tulisan
diusahakan untuk selalu di edit sebaik mungkin. Blog pertama yang bapak Ngainun
luncurkan adalah: blogspot. Ini blog gratis. Jadi tata letak dan sebagainya
sederhana. Blog kedua: spirit literasi itu berbayar. Jadi lebih bagus dari sisi
isi dan tata letak. Kalau Kompasiana, saya tidak tahu. Tahunya saya unggah
tulisan, sudah.
Musuh terbesar dari
seorang penulis adalah diri sendiri. Itu butuh perjuangan. Beliau juga mengalaminya. Seiring perjalanan
waktu, beliau mengabaikan itu. Pokoknya
beliau menulis saja. Kualitas itu akan meningkat seiring dengan banyaknya karya
yang kita hasilkan. Tentu juga harus belajar tanpa henti. Beliau sampai sekarang masih terus belajar, mencari
informasi, menonton YouTube, membaca, dan terus menulis. Jadi teruslah menulis.
Bagaimana kualitas bisa meningkat jika berhenti menulis? Tentu ada. Jadi
biasakan membuat TEMPLATE atau semacam ancangan (kerangka) sederhana saat
membiasakan menulis secara nyicil. Misalnya: Saya mau menulis tentang: EMPAT
HAL YANG MUDAH DITULIS.
Paragraf satu membuat
panduan: Menulis Itu mudah apa sulit?. Selanjutnya, menulis Perjalanan. Jadi setiap paragraf
sudah ada kata kuncinya biar tidak liar ke mana-mana. Menulis setiap hari bukan
berarti tanpa editing. Aspek yang penting dari menulis itu adalah kemampuan
mengeluarkan ide dan gagasan menjadi tulisan. Ini jangan dipagari dulu dengan
teori ini dan itu. Berani dulu. Artinya, ini tahapan yang belum selesai. Nah,
setelah tulisan jadi, baru diedit. Itu dua hal berbeda. Jika menulis itu
diawali dari harus begini, harus begitu, maka jadinya kayak mahasiswa yang
menulis skripsi itu. Takut salah. Takut ini itu. Jadinya ya nggak jadi-jadi.
Demikian akhir, pertemuan
kali ini yang luar biasa. Terimakasih kepada
Prof. Dr. Ngainun dan Tim Solid. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.....

Siiip Bu Ani
BalasHapusTerimakasih Bu Ovi....
HapusKeren Resumenya bu👍🏻
BalasHapusTerimakasih Bu desi
HapusBgs resumnya Bu
BalasHapusTerimakasih bu
HapusEndapannya banyak. Zozz......Bun.
BalasHapusTerimakasih masukkannya pak
HapusMantul bu tulisannya
BalasHapusKeren....mantap bund
BalasHapusTerimakasih bu
HapusMantap bu
BalasHapusTerimakasih bun
HapusTerimakasih
BalasHapus