LANGKAH MENYUSUN BUKU SECARA SISTEMATIS
Judul :
Langkah Menyusun Buku Secara Sistematis
Pertemuan ke : 15
Hari/tanggal :
Jum’at, 10 Pebruari 2023
Narasumber :
Yulius Roma Patandean, SPd
Moderator : Arofiah
Afifi, S.Pd
Narasumber pada pertemuan kali adalah seseorang yang lahir
di Salubarani, Tana Toraja, 6 Juli 1984. Beliau menyelesaikan jenjang S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas
Kristen Indonesia Toraja (2003-2007) dan melanjutkan pendidikan S2 di Institut
Agama Kristen Negeri Toraja. Beliau merupakan guru Bahasa Inggris di SMAN 5
Tana Toraja sejak tahun 2015 dan pernah
menjadi pengajar tidak tetap di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia
Toraja, Tutor Universitas Terbuka dan Fasilitator Belajar Yayasan Trampil
Indonesia.
Prestasi yang pernah diraihnya adalah guru berprestasi
jenjang SMA Kabupaten Tana Toraja tahun 2016, pemenang ketiga lomba kreatifitas
guru tingkat SMA pada Porseni PGRI Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2017, meraih
dua medali emas dan tiga medali perunggu pada ajang Gurulympics PGRI tahun 2020
Menulis adalah sesuatu yang unik ketika baru dimulai
apalagi kalau belum terbiasa. Ternyata menulis adalah sesuatu yang membuat
ketagihan layaknya kripik singkong yang diberikan Omjay ke saya tempo hari.
Jika senantiasa dikunyah akan selalu dirindukan pula. Demikian halnya dengan
menulis. Menulis harus dibiasakan setiap hari, seperti slogan Omjay yang sudah
familiar bagi kita.
Semua hal bisa jadi bahan tulisan. Apa yang dilihat,
dirasakan, dibayangkan dan bahkan dialami bisa dituliskan. Jika khawatir ide di
kepala mudah hilang, mari tuliskan ide melalui blog.
Pengalaman beliau ketika tahun 2020. Buku pertama yang
beliau terbitkan adalah buku solo
berjudul Guru Menulis Guru Berkarya Kontennya adalah materi-materi yang
disampaikan para narasumber di Grup WA. Beberapa pertemuan di grup belajar
menulis, akhirnya ketemulah saya dengan tokoh pendidikan dan teknologi yang
membuka wawasan saya tentang menulis. Beliau adalah Prof. Richardus Eko
Indrajit. Dalam materinya, beliau menantang peserta untuk menulis dalam waktu
satu minggu.
Jika masih ragu-ragu, maka cobalah. Menulis, menyusun dan
mengedit naskah buku tidak bisa menjadi ala bisa karena biasa semata tanpa ada
percobaan. Dengan mencoba, maka akan timbul rasa penasaran untuk menjalaninya.
Ada pahit, manis, asam, asin, kecewa dan bahagia kala mencoba.
Percobaan mendorong teman-teman untuk berbuat lebih untuk
menjawab rasa penasaran. Pertanyaannya, apakah sekedar selesai mencoba atau mau
melanjutkan. Jika hendak melanjutkan, maka lakukan dengan segera. Praktekkan
sekaligus, biarkan mengalir bersama jari-jari mungil teman-teman. Melakukan
proses lebih dalam menulis membutuhkan dorongan lebih pula. Tidak hanya
dorongan untuk membuat tulisan, yang lebih utama adalah niat menghilangkan rasa
penasaran di pikiran. Penasaran tentang apa yang akan saya tulis, susun dan
terbitkan.
Ketika Menulis harus menjadi sebuah budaya. Maka, budaya
bersama dengan praktek menyusun dan mengedit naskah. Menghasilkan sebuah karya
tulisan sederhana tidak bisa tercapai dengan maksimal jika didorong oleh
paksaan. Membudayakan menulis adalah proses menuju karya.
Konsisten adalah langkah pamungkas dalam teori menulis,
menyusun dan mengedit naskah yang selama ini saya lakukan. Budaya menulis yang
baik adalah ketika kita menjadi konsisten dalam mempraktekkannya.
Berikut
adalah penjelasan mengenai lima langkah utama dalam proses penulisan.
Langkah
Pertama: Persiapan
Menulis,
seperti halnya kebanyakan tugas teknis, membutuhkan persiapan yang bagus --
bahkan, persiapan yang cukup sama pentingnya dengan penulisan draf. Persiapan
menulis terdiri dari (1) menetapkan tujuan, (2) mengidentifikasi pembaca, dan
(3) menentukan batasan tulisan Anda.
Menetapkan
tujuan hanyalah sebatas menentukan apa yang Anda ingin agar pembaca Anda tahu
atau dapat lakukan setelah mereka selesai membaca laporan atau tulisan Anda.
Namun Anda harus saksama; sering kali penulis menyatakan tujuan yang terlalu
luas sehingga tidak ada gunanya. Tujuan menulis seperti "Untuk melaporkan
tempat-tempat yang berpotensi bagi pembangunan pabrik baru", terlalu umum
dan tidak akan ada gunanya. Namun "Menghadirkan kelebihan-kelebihan
Chicago, Minneapolis, dan Salt Lake City sebagai lokasi yang berpotensi bagi
pembangunan pabrik baru sehingga atasan dapat memilih lokasi yang terbaik"
akan memberikan Anda sebuah tujuan yang dapat menuntun Anda dalam seluruh
proses penulisan.
Berikutnya
adalah mengidentifikasi pembaca -- sekali lagi, hal ini juga harus dilakukan
dengan saksama. Apa yang pembaca Anda perlukan berkaitan dengan subjek Anda?
Apa yang pembaca sudah ketahui mengenai subjek tulisan Anda? Anda harus tahu,
misalnya apakah Anda harus mendefinisikan istilah dasar atau apakah definisi
seperti itu akan membosankan, atau bahkan membuat pembaca Anda merasa dihina.
Apakah pembaca Anda sebenarnya adalah beberapa orang yang memiliki bidang minat
dan tingkat pengetahuan teknis yang berbeda-beda? Karena target pembaca yang
dinyatakan pada tujuan di paragraf sebelumnya adalah "atasan". Namun
siapa saja yang termasuk dalam kategori tersebut. Apakah salah satu orang yang
akan memeriksa laporan itu adalah manajer personalia? Jika ya, maka dia
pastinya akan memiliki minat pada beberapa hal, seperti ketersediaan tenaga
kerja yang kompeten di setiap kota, adanya kampus-kampus yang akan memberikan
pelatihan bagi para karyawan, kondisi perumahan, bahkan mungkin fasilitas
rekreasi. Manajer pembelian akan peduli terhadap adanya sumber-sumber material
yang dibutuhkan pabrik. Manajer pemasaran akan lebih cenderung memikirkan
kedekatan pabrik dengan pasar utamanya dan kondisi transportasi bagi keperluan
distribusi pabrik. Wakil kepala bagian keuangan pasti akan ingin tahu mengenai
biaya tanah dan bangunan, juga struktur pajak setempat. Presiden perusahaan
mungkin akan tertarik dengan semua itu, dan bahkan lebih dari itu; misalnya, ia
mungkin ingin tahu mengenai efisiensi perjalanan antara pabrik pusat dan pabrik
yang baru.
Langkah
Kedua: Penelitian
Tujuan
dari sebagian besar tulisan teknis adalah untuk menjelaskan sesuatu -- biasanya
sesuatu yang rumit. Tulisan seperti ini tidak dapat dilakukan oleh seseorang
yang tidak memahami subjek yang akan ia tulis. Cara satu-satunya untuk
memastikan bahwa Anda dapat memahami dengan baik tulisan dengan subjek yang
rumit adalah dengan menyusun seperangkat catatan selama penelitian Anda secara
utuh dan kemudian membuat kerangka dari catatan tersebut. Ada tiga sumber informasi
yang tersedia bagi Anda: perpustakaan, wawancara (kuesioner tertulis), dan
wawasan Anda sendiri. Pertimbangkan ketiga sumber itu saat Anda mulai melakukan
penelitian dan gunakan yang sekiranya memenuhi kebutuhan Anda. Tentu saja,
jumlah penelitian yang harus Anda lakukan tergantung dari proyek Anda; untuk
memo sederhana atau surat, "penelitian" Anda mungkin hanyalah
mencatat semua gagasan Anda sebelum Anda mulai mengorganisasinya.
Langkah
Ketiga: Pengorganisasian
Tanpa
pengorganisasian, bahan-bahan yang dikumpulkan selama proses penelitian tidak
akan dapat dipahami oleh pembaca Anda. Untuk melakukan pengorganisasian yang
efektif, Anda harus menentukan urutan gagasan yang harus dihadirkan, yaitu Anda
harus memilih metode pengembangan.
Metode
pengembangan yang tepat adalah alat penulis untuk mengendalikan bahan-bahannya
dan alat pembaca untuk mengikuti apa yang disajikan penulis. Subjek Anda
mungkin saja dapat menjadi metode pengembangannya. Misalnya, jika Anda
menyajikan instruksi menghidupkan mesin, Anda pastinya akan menyajikan
langkah-langkah prosesnya secara urut. Metode seperti itu adalah metode
pengembangan urutan. Jika Anda menulis tentang sejarah komputer, maka Anda akan
menyajikannya dari awal sejarah sampai masa kini. Metode itu adalah metode
pengembangan kronologis. Jika subjek Anda bisa menjadi metode pengembangan
dalam tulisan Anda, maka gunakanlah -- jangan berusaha menerapkan metode lain
pada subjek itu. Banyak metode pengembangan yang tersedia untuk orang teknis,
yakni, kronologis, urutan, spasial, urutan tingkat kepentingan, perbandingan,
analisa, umum-khusus, khusus-umum, dan sebab-akibat. Sebagai penulis, Anda
harus memakai metode pengembangan yang paling cocok dengan subjek, pembaca, dan
tujuan Anda. Setelah itu Anda siap untuk membuat kerangka tulisan.
Pembuatan
kerangka membuat subjek yang luas atau rumit menjadi lebih mudah ditangani
dengan memecah-mecahnya menjadi bagian-bagian yang dapat dikelola, dan hal ini
memastikan tulisan Anda akan mengalir secara logis dari satu ide ke ide yang
lain tanpa menghapus ide yang penting. Pembuatan kerangka juga memampukan Anda
untuk menekankan poin-poin kunci Anda dengan menempatkan mereka pada posisi
yang penting. Akhirnya, saat Anda memaksakan diri untuk menyusun pemikiran Anda
pada tahap awal, pembuatan kerangka tulisan yang bagus akan membuat Anda untuk
secara eksklusif berkonsentrasi menulis saat Anda memulai draf kasar tulisan
Anda. Bahkan, jika bentuk tulisannya hanyalah sebuah surat atau memo pendek,
tulisan yang berhasil memerlukan logika dan susunan yang disediakan oleh metode
pengembangan dan kerangka tulisan, meskipun untuk proyek sederhana seperti itu,
biasanya metode pengembangan dan kerangka tulisan tertulis bukan di kertas,
namun dalam pikiran Anda.
Langkah
Keempat: Penulisan Draf
Saat
Anda telah menentukan tujuan, target pembaca, dan batasan tulisan Anda, saat
Anda telah melakukan penelitian secukupnya serta telah memilih metode
pengembangan dan membuat kerangka tulisan, penulisan draf menjadi relatif
mudah. Penulisan draf hanyalah proses penulisan dan perluasan kerangka tulisan
menjadi kalimat-kalimat utama dan kemudian menjadi paragraf. Tulis draf dengan
cepat, konsentrasikan seluruhnya pada pengubahan kerangka tulisan menjadi
kalimat-kalimat dan paragraf-paragraf. Jangan kuatirkan pengantar yang bagus
kecuali jika memang itu mudah untuk dilakukan. Konsentrasi pada ide-idenya.
Jangan mencoba untuk merevisi atau memperhalus kalimatnya. Jangan pedulikan
aturan tata bahasa atau ejaan karena hal itu bukanlah hal yang penting dalam draf
kasar. Di atas semuanya itu, tetap ingat kebutuhan dan wawasan pembaca.
Langkah
Kelima: Revisi
Jika
Anda telah mengikuti langkah-langkah penulisan sampai pada langkah kelima ini,
Anda memegang draf tulisan yang sangat kasar, yang sama sekali tidak dapat dianggap
sebagai produk jadi. Revisi adalah langkah terakhir yang harus dilakukan.
Kerangka pemikiran yang berbeda diperlukan dalam merevisi; tidak sama saat Anda
menulis draf kasar. Baca dan evaluasi draf dari sudut pandang pembaca. Temukan
dan betulkan kesalahan, dan jujurlah. Keraslah terhadap diri sendiri demi
kepentingan pembaca; jangan memanjakan diri di atas pengorbanan pembaca.
Jangan
coba untuk merevisi semuanya sekaligus. Baca draf kasar tulisan Anda beberapa
kali, dan cari serta betulkan kesalahan yang ada.
Sungguh sangat bermanfaat pertemuan kali ini, terimakasih
bapak narasumber yang luar biasa dan Tim Solid. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Komentar
Posting Komentar